Senin, 09 November 2009

5 Hal Pemicu Rasa Marah Pada Si Kecil



Anak kecil takut 2
VIVAnews - Anda pasti pernah menghadapi situasi saat buah hati menangis sambil marah tak terkendali. Bukan hanya saat berada di rumah tapi juga di tempat umum.

Tentunya Anda tidak ingin hal tersebut sering terjadi. Nah, untuk menghindarinya, Anda harus tahu dulu pemicunya, agar bisa Anda hindari. Berikut lima hal yang sering memicu si kecil mengamuk.


1. Keadaan biologis

Saat tubuhnya merasa lelah, kurang tidur, mengantuk, lapar, anak cenderung akan mudah marah. Jadi pastikan saat melakukan perjalan panjang Anda menyiapkan makanan untuknya. Pastikan juga ia cukup istirahat, jangan terlalu banyak kegiatan karena rasa lelah bisa memicu emosinya.

2. Tidak memiliki jadwal teratur

Jika anak memiliki waktu kosong yang cukup lama ia akan melakukan hal yang menyenangkan tetapi belum tentu baik baginya. Jika Anda melarangnya, ia pasti akan marah besar. Jadi sebaiknya, buatlah jadwal teratur sehingga ia bisa melakukan hal yang bermanfaat. Misalnya kegiatan bermain yang berbeda-beda, hari Senin ia bermain puzzle, Selasa menggambar, Rabu mewarnai dan seterusnya.

3. Tugas

Saat anak diharuskan mengerjakan tugas sekolah atau tugas yang Anda berikan, ia akan cenderung merasa terbebani dan merasa stres. Jika dipaksakan, justru bisa membuat emosinya meledak. Untuk mengatasinya, bujuk anak dengan memberikan hadiah kecil jika ia selesai mengerjakan tugasnya. Memuji, memeluk dan menciumnya setelah menyelesaikan tugas juga efektif membuat anak tidak terbebani dengan tugas dan menghindari luapan emosinya.

4. Menunggu

Anak mudah sekali bosan, sehingga saat harus menunggu tanpa kegiatan ia akan mudah rewel. Jadi jika Anda pergi ke suatu tempat yang mengharuskan menunggu lama, bawalah mainan kesukaan si kecil. Agar ia bisa melakukan kegiatan saat sedang menunggu.

5. Mencari perhatian lebih

Jika anak merasa tidak diperhatikan, maka sikapnya bisa berubah dari biasanya. Ia bisa mencari perhatian dan salah satunya adalah dengan menangis keras, marah-marah dan masih banyak lagi. Untuk mengatasinya, fokuskan dulu perhatian Anda padanya hingga ia merasa nyaman.


Read more...

Minggu, 08 November 2009

Langkah Bijak Memakai Kartu Kredit


KARTU kredit tak hanya sekadar gaya hidup, tetapi merupakan kebutuhan bagi masyarakat urban untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya. Namun di balik kartu kredit, banyak masalah yang mengancam, jika Anda tak bijak menggunakannya.

Kartu kredit ibarat barang mewah yang mampu membayar segala keperluan dalam waktu singkat dan cepat. Untuk itu, Vice President Customer Care Center Head Citibank Indonesia, Hotman Simbolon memaparkan bagaimana langkah bijak memakai kartu kredit.


"Kredit dengan agunan adalah pinjaman yang diperoleh seseorang dengan menjaminkan sesuatu kepada kreditur. Agunan adalah sesuatu yang bernilai sama atau lebih besar dari jumlah pinjaman, seperti mobil, rumah atau deposito tunai. Kredit tanpa agunan adalah pinjaman yang diperoleh seseorang tanpa jaminan apapun," ujarnya saat ditemui di Ballroom Mandari Oriental Hotel, Jakarta, Sabtu (7/11/2009).

"Kartu kredit merupakan salah satu jenis pinjaman pribadi tanpa agunan yang paling umum. Memakai kartu kredit sama saja meminjam uang. Setiap kali Anda menggesek kartu kredit sama saja dengan meminjam uang. Setiap kali menggesek kartu, Anda sebenarnya mengajukan permohonan pinjaman untuk pembelanjaan tersebut," lanjutnya.

Seseorang akan menghadapi banyak masalah jika tidak membayar tagihan kartu kredit atau pinjaman tepat pada waktunya. Yang pada akhirnya akan mengarah pada tindakan hukum. Menunda pembayaran pinjaman atau tagihan kartu kredit dapat menjadi masalah yang serius.

"Agar terhindar dari masalah, gunakanlah pinjaman Anda dengan bijaksana. Oleh karena itu, pertama-tama Anda harus mengetahui berapa nilai pinjaman yang sanggup Anda bayar. Anda harus meneliti dengan seksama kondisi keuangan Anda pada saat ini dan pada masa yang akan datang sebelum melakukan pinjaman. Pastikan Anda juga sanggup untuk melakukan pinjaman," imbuhnya.

Lebih lanjut, Hotman mengimbau untuk membuat anggaran yang realistis saat membayar pinjaman-pinjaman itu dengan menghitung rasio pinjaman. Di mana rasio pinjaman adalah perbandingan jumlah pinjaman dengan jumlah pendapatan.

Rasio pinjaman ini merupakan persentase dari penghasilan bulanan bersih yang dipakai untuk membayar pijaman dan biaya bulanan lainnya.

"Dengan demikian, semakin kecil rasio pinjaman Anda, semakin besar pula uang yang bisa Anda sisihkan untuk ditabung atau dipakai untuk keperluan lain. Serta jangan pernah gunakan kartu kredit untuk mebayar kartu kredit lainnya atau untuk mengambil uang tunai," tandasnya.

Banyak ahli keuangan menyarankan agar rasio yang dipakai untuk membayar pinjaman dan katu kredit tidak melebihi 15 hingga 20 persen dari pendapatan bersih, dan total pembayaran semua utang termasuk cicilan rumah sebaiknya tidak melebihi 40 persen dari pendapatan Anda. (nsa)


Read more...

Jumat, 06 November 2009

Menuju Indonesia Sehat 2010


TAHUN 2010 adalah tahun Indonesia Sehat. Kenyataannya, pelayanan kesehatan belum memadai. Masyarakat masih terkungkung dalam ketidakadilan untuk untuk hidup sehat, khususnya mereka yang masih miskin. Terpenjara dalam lingkungan yang tak mendukung untuk sehat. Akankah masyarakat bisa sehat di 2010? Ataukah hanya mimpi?

Tahun 2010 tinggal menunggu waktu. Dan di tahun tersebut telah ditetapkan sebagai tahun Indonesia Sehat. Rencana ini telah lama dipikirkan oleh pemerintah kita sebelumnya dan telah dirumuskan sejak pemerintahan Presiden BJ Habibie, 1999 lalu.

Memang, saat itu belum ada indikator-indikator yang jelas, serta rumusan tujuan yang pasti mengenai apa yang ingin diraih dalam program tersebut. Namun, saat itu pula, pemerintah berkeyakinan kuat, dalam tahun 2010, masyarakat Indonesia bakal mendapatkan hidup yang sehat, di dalam lingkungannya maupun dalam pribadinya.

Pertanyaannya sekarang, sosok sehat seperti apa yang hendak dicapai oleh pemerintah kita? Sehat untuk siapa? Melihat kenyataannya sekarang, masyarakat kita masih banyak yang hidup dalam bayang-bayang lingkungan yang tidak sehat. Untuk mengurusi masalah perut saja kadang susah, apalagi harus dipusingkan dengan urusan hidup bersih dan sehat. Bagaimana mengatasinya?

Merumuskan Indonesia sehat dengan dana minim

Cita-cita dari Indonesia Sehat 2010 (IS 2010) adalah agar masyarakat Indonesia dapat hidup dalam lingkungan sehat dan berperilaku hidup sehat. IS 2010 juga untuk mendorong masyarakat kita bisa menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata guna mencapai derajat kesehatan yang optimal. Makna kesehatan bukan hanya kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohani. Tubuh sehat dan ideal berasal dari kesehatan yang mencakup fisik, mental, dan sosial.

Tahun 2003, dibuatlah indikator-indikator yang akan digunakan untuk meraih target masyarakat sehat di tahun esok. Penentuan target kesehatan bukanlah perkara mudah. Ratusan indikator disusun sedemikian rupa, dan menghasilkan 50 indikator lengkap dengan target-target yang diharapkan bakal terjadi. Salah satu fokusnya adalah penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu.

Selain itu, dirancang berbagai program guna mempercepat perwujudannya. Untuk merencanakan sebuah program yang berkesinambungan, memang diperlukan biaya yang tidak murah. Maklum, besarnya anggaran kesehatan di Indonesia masih minim. Setiap tahunnya, anggaran kesehatan hanya berkisaran 2,3 persen dari total APBN. Padahal WHO telah menyarankan agar setiap negara mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 5 persen dari APBN.

Dari APBN 2009 yang berjumlah Rp1.037,1 triliun, anggaran Departemen Kesehatan dijatah Rp20,3 triliun atau 2,8 persen dari total APBN 2009. Salah satu siasat dengan minimnya dana Depkes tersebut, campur tangan Pemda juga harus dilakukan. Pemda harus memberikan dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Harus ada alokasi dana khusus untuk kesehatan masyarakat di daerahnya.

Meski jumlah anggaran kesehatan minim, seharusnya bukan menjadi alasan semua pihak untuk bersikap pesimistik. Memang, dengan anggaran kesehatan yang serbaterbatas, pasti akan ada penduduk yang sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Pada tahun 2005, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mencatat, jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak sebanyak 1.268 unit, baik yang dikelola oleh pihak swasta, pemerintah, TNI dan Polri, BUMN, maupun departemen lain. Jumlah tersebut memang masih belum memadai untuk melayani masyarakat Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa. Di sinilah pentingnya Puskesmas yang tersedia di tingkat bawah, untuk melayani langsung kebutuhan kesehatan masyarakat.

Hal ini tentunya menjadi hambatan dalam pencapaian kesuksesan untuk membentuk pelayanan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Minimnya dana, membuat banyak dari kegiatan kesehatan lain, yang seharusnya bisa dilaksanakan bagi masyarakat, terpaksa harus tertunda.

Kita harus ingat bahwa memeroleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah sebuah hak yang mendasar bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik dan tingkat sosial yang dianut. Itu pun juga termasuk dalam konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang disepakati tahun 1948, yang menjiwai penyusunan pembangunan kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010.

IS 2010, Rencana yang strategis

Saat menentukan mengapa memilih 2010, tentu saja menjadi sebuah wacana. Satu dasawarsa (dihitung sejak pencanangannya di tahun 1999) merupakan waktu yang cukup untuk bisa mewujudkan suatu cita-cita. Paling tidak sebuah agenda untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Akhirnya, ditentukan sasaran IS 2010, yakni hidup dalam lingkungan yang sehat, mempraktikan hidup yang bersih dan sehat, mampu menyediakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta memiliki derajat kesehatan yang tinggi.

Dalam rencana strategis Departemen Kesehatan 2005-2009 telah disinggung pula upaya pemerintah untuk mencapai Indonesia Sehat 2010. Hal itu tertera dalam visi Departemen Kesehatan, yakni Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat. Hal ini berarti, pemerintah menginginkan sebuah kondisi di mana masyarakat Indonesia sadar, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, baik faktor lingkungannya maupun perilakunya. Ini sepertinya susah, mengingat pola hidup sehat masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Diperlukan sebuah perencanaan yang strategis dan berkesinambungan dalam mewujudkannya. Outcome yang diharapkan dari berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Depkes tahun 2009 ini adalah menurunnya kematian ibu dan anak, kekurangan gizi dan pengendalian penyakit menular; terpenuhinya kebutuhan dokter spesialis; menurunnya masalah gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil dan menyusui, bayi dan anak balita; meningkatnya surveilans, deteksi dini, dan pengobatan.

Sumber:
Anugerah Pharmindo Lestari News Magazine
www.aplcare.com
(tty)
Read more...

Rabu, 04 November 2009

Motivasi di dalam keluarga

Keluarga adalah tempat tinggal landas kita. Jika tinggal landas kita baik, maka kita pun bisa terbang dengan baik. Artinya jika kita berangkat dari rumah diiringi dengan dorongan semangat, tentu akan membuat kerja kita menjadi lebih bersemangat pula. Sebaliknya jika kondisi keluarga kita kurang kondusif, hal ini bisa terbawa ke tempat kerja kita sehingga bisa saja kita bekerja dengan motivasi yang kurang.

Oleh karena itu jangan sepelekan masalah motivasi dalam keluarga. Bukan saja kita yang memerlukan dukungan motivasi tetapi pasangan kita dan juga anak kita memerlukan dukungan motivasi agar mereka bisa berprestasi juga. Dalam keluarga kita perlu saling memberikan motivasi satu sama lain. Sayang sekali, dari pengamatan saya, malah banyak yang sebaliknya. Bukan saling memberikan motivasi tetapi justru saling meruntuhkan.

Motivasi bisa muncul saat kondisi emosi kita sedang baik. Kondisi emosi sangat dipengaruhi oleh cara kita berkomunikasi. Oleh karena itu kita perlu memahami cara komunikasi yang baik agar terjadi saling menumbuhkan motivasi diantara keluarga. Yang pertama, usahakan komunikasi kita membawa kepada kegembiraan. Bisa dilakukan sambil terseyum, sambil bercanda, dan cara-cara lain yang menyenangkan. Kita juga perlu melihat saat yang tepat untuk membicarakan sesuatu masalah yang berat, jangan asal ngomong.

Yang kedua ialah pilihan kata yang baik. Jangan menggeneralisir sesuatu, apa lagi kekurangan. Sebagai contoh saat anak kita mendapat nilai jelek untuk matematika, jangan mengatakan anak kita bodoh, karena bisa saja dia kurang mampu dalam matematika tetapi bagus untuk hal yang lainnya. Begitu juga satu kesalahan jangan terlalu dihubung-hubungkan dengan masalah yang lain.

Yang ketiga ialah berikan arahan dan dukungan. Hindari kesan melarang, terutama kepada anak-anak. Larangan bisa mengurangi motivasi seseorang, maka kita harus pandai meramu cara berkomunikasi agar tidak terkesan melarang sesuatu yang kita tidak setujui, yaitu dengan mengarahkan. Sementara dukungan akan memberikan tambahan motivasi bagi seseorang, oleh karena itu, jika kebutulan setuju dengan apa yang dilakukan oleh salah satu keluarga kita, maka berikanlah dukungan.

Seringkali orang tua yang bermaksud menasihati anaknya, malah mendemotivasi. Sebagai contoh, saat anak mengemukakan cita-citanya, misalnya ingin menjadi seorang guru. Kita langsung bicara:

“Kamu itu tidak sabaran, tidak cocok menjadi guru!”

Apa kira-kira yang dirasakan oleh anak kita? Semangat dia bisa menjadi drop, dia bisa kehilangan motivasi, bukan saja untuk menjadi guru, tetapi untuk menjadi yang lainnya. Mengapa? Karena motivasinya untuk berprestasi sudah hilang.

Cobalah dialog lebih dalam sebelum Anda memberi vonis, tanyakan mengapa ingin menjadi guru? Apakah dia merasa cocok mejadi guru? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggali sehingga kita bisa mempertimbangkan. Bisa saja kita yang salah, sebenarnya anak kita sangat cocok mejadi guru, hanya saja kita yang kurang memahami anak kita. Jika memang dia tidak cocok menjadi guru, atau cita-citanya ke arah yang tidak baik, cobalah bicara dengan jalan yang mengarahkan sehingga seolah-olah keputusan yang diambil adalah pendapat dia sendiri.



Read more...

Urutan Lahir Pengaruhi Kepribadian?



KEPRIBADIAN seorang anak dipengaruhi banyak faktor. Keturunan dan lingkungan salah satunya. Di luar itu, urutan kelahiran disinyalir berpengaruh juga terhadap kepribadian anak. Benarkah?

Memiliki anak berkepribadian dan berkarakter kuat tentu menjadi dambaan semua orangtua. Nanun walaupun saudara sekandung, mereka biasanya memiliki kepribadian yang berbeda. Noviarti, 38, misalnya, ibu dua anak ini mengatakan: "Ya, anak kami yang bungsu, dia lebih mandiri lho daripada kakaknya yang besar. Kalau waktu belajar tiba, saya lebih banyak meluangkan waktu dengan kakaknya daripada dengan dia."


Sementara Linda, 40, lain lagi. Anak bungsunya lebih ekspresif dibandingkan anak yang pertama. "Yang besar malah cenderung lebih pendiam," katanya. Bagi mereka, memahami karakter si kecil sangat penting untuk menerapkan pola asuh mereka. Benarkah urutan kelahiran mereka berpengaruh terhadap kepribadian mereka?

Dikatakan praktisi emotional intelligence parenting dari Radani Emotional Intelligence Parenting Center, Hanny Muchtar Darta Certified EI PSYCH-K SET, bahwa penelitian menunjukkan memang ada kaitan antara urutan kelahiran dan kepribadian anak. Dengan kata lain, tumbuh-kembang si anak dalam beberapa hal tertentu dipengaruhi urutan kelahiran dalam keluarga, misalnya kepribadian anak pertama, kedua, ketiga, anak tengah, dan anak tunggal.

Penelitian menunjukkan bahwa temperamen anak, social skills, kemampuan memecahkan masalah, dan rasa percaya diri anak dipengaruhi urutan kelahiran anak.

"Harap diingat bahwa urutan kelahiran hanyalah satu dari beberapa faktor lainnya yang memengaruhi perkembangan anak. Dan, faktor terpenting lainnya adalah bagaimana Anda sebagai orangtua, sebagai ayah dan ibu mengasuh si buah hati," ucap praktisi lulusan pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA pada 2004 dan 2005 ini.

Hanny menjelaskan bagaimana urutan kelahiran dalam keluarga memengaruhi kepribadian anak. Mari bayangkan bersama, dan Anda pun akan memahaminya secara mudah. Ketika anak pertama lahir, dia biasanya mendapatkan segala perhatian dari keluarga, ayah, ibu, dan keluarga besarnya, apalagi jika kelahirannya sudah ditunggu, atau merupakan cucu pertama yang ditunggu keluarga besar.

Ayah dan ibu akan berusaha melakukan stimulasi terbaik terhadap anaknya, karena belum mempunyai adik sudah pasti si sulung akan mendapatkan perhatian penuh dari orangtua dan lingkungannya. Oleh sebab itu, tidaklah aneh kalau anak-anak pertama atau anak sulung cenderung lebih cerdas.

Nah, mengapa anak kedua mempunyai kecenderungan untuk berbeda dengan anak pertama dan cenderung untuk mempertanyakan peraturan? Anak kedua ingin berbeda dari kakaknya dan tidak mau menjadi bayang-bayang kakaknya yang selalu berusaha menjadi yang terbaik karena biasanya orangtua menekankan penting untuk menjadi contoh sang adik.

"Alasan mengapa anak bungsu cenderung menunjukkan sikap atau perilaku mandiri dibandingkan dengan kedua kakaknya karena itu sudah menjadi keharusan karena orangtua sibuk dengan kedua kakaknya yang lain," ujarnya.

Masih dikatakan Hanny,walaupun anak bungsu biasanya mendapatkan limpahan kasih sayang karena anak bungsu, apalagi kalau jaraknya jauh dengan si kakak, biasanya tetap cenderung menunjukkan kemandirian yang lebih menonjol.

"Ada kemungkinan si bungsu mempunyai tempat bertanya, tak hanya orangtua seperti yang dilakukan si sulung dulu. Dia mempunyai pilihan untuk bertanya bisa ke kakak pertama, kedua, atau ke orangtuanya," tuturnya pada SI dengan nada yang menyiratkan ketertarikan pada penelitian ini.

Hanny menegaskan, sebagai orangtua, Anda perlu melakukan pengasuhan terbaik kepada anak-anak yang telah dilahirkan dan tidak terpaku pada hasil riset ini. Dan sebagai calon orangtua, Hanny berpesan agar sebaiknya menjadikan hasil riset ini sebagai patokan untuk melakukan pola pengasuhan yang lebih baik, sehingga kepribadian anak tak terpengaruh dari urutan kelahirannya.

Anak diharapkan juga mampu untuk mencapai segala potensi yang ada di dalam dirinya sehingga mereka menjadi anak yang sehat, merasa nyaman, ceria, kuat, dan cerdas secara emosional ataupun intelektual.
(Koran SI/Koran SI/tty)
Read more...

Selasa, 03 November 2009

Kapan kita boleh menyerah??

”Habis gelap, terbitlah terang,” demikian Ibu Kartini memesankan. Setiap situasi sulit, pasti ada akhirnya. Masalahnya, kita sering tidak tahu kapan kesulitan itu akan berakhir sehingga tidak mudah untuk memutuskan apakah harus menyerah dan berhenti sampai disini saja, ataukah kita mesti bertahan ’sebentar’ lagi? Jika berhenti, boleh jadi kita kehilangan momentum karena bisa saja sebenarnya kita sudah berada pada ’detik-detik’ menjelang akhir itu. Tapi, kalau harus terus, sampai kapan?



Anda tentu tahu bahwa kemajuan teknologi memungkinkan kita menggunakan ban mobil tanpa ban dalam. Ban sejenis itu bernama ’Tubeless Tyre’. Namun, lidah ketimuran kita lebih mudah menyebutnya sebagai ban cubles, alias ban tanpa ban dalam. Kekaguman saya terhadap ban cubles seolah tidak pernah habis-habisnya. Pertama karena dia mengajari kita untuk mengubah paradigma. Semula, yang namanya ban, ya mutlak mesti ada ban dalam. Jadi, tanpa ban dalam, ban tidak bisa dipompa. Ban cubles mengenalkan kita kepada paradigma baru bahwa tanpa ban dalam pun ternyata kita bisa mendapatkan fungsi ban sebagaimana mestinya.

Jika hari ini kita bisa mengubah paradigma tentang ban yang ternyata tidak harus selalu memiliki ban dalam, mungkinkah kita juga mengubah paradigma kita tentang hidup? Misalnya, kita sering percaya bahwa untuk bisa berhasil kita mesti memiliki ’ini dan itu’. Tanpa semua ’ini dan itu’ itu, tidaklah mungkin kita berhasil. Jika hingga saat ini kita belum juga berhasil, barangkali bukan karena kita tidak memiliki ’ini dan itu’ itu. Sebab, ban cubles itu sudah menunjukkan bahwa tanpa ban dalam pun dia tidak kehilangan fungsinya sebagai ban. Boleh jadi, paradigma lama telah menjadikan pandangan kita agak gelap. Sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain untuk berhasil, selain semua ’keharusan’ dan ’persyaratan’ yang kita buat sendiri itu.

Kekaguman saya berikutnya pada ban cubles adalah pada daya tahannya. Beberapa kali ban mobil saya terkena paku. Namun, ban cubles itu tidak pernah mengecewakan saya. Jika ban tradisional terkena paku, maka pada detik itu juga akan langsung gembos. Dia bisa meledak dengan bunyi yang sanggup menggetarkan jantung hingga nyaris copot. Bahkan, jika itu terjadi disaat kendaraan melaju kencang, bisa menyebabkan kecelakaan. Tapi, ban cubles tidak demikian. Seperti yang saya alami dimusim liburan tahun ini. Saya sedang berada diluar kota ketika mendapati ban mobil kami kempes. Karena kebanyakan orang sedang mudik, maka sebagian besar tambal ban pada tutup. Ketika ada satu yang masih buka, saya tidak bisa berharap banyak karena perlengkapan yang dimilikinya tidak memungkinkan untuk membongkar ban. Praktis yang bisa dilakukannya hanya menambah angin saja. Dengan ijin Tuhan, saya berhasil menyelesaikan perjalanan sekitar 200 kilometer dengan nyaman dan aman.

Keesokan harinya, saya membongkar ban itu. Benar saja, ada paku ulir yang tertancap disana. Saya kagum karena ban cubles itu tidak langsung meledak saat tertusuk paku. Saya lebih kagum lagi karena ada paku lain yang menancap dibagian lainnya. Bahkan terkena dua paku pun dia tidak mengeluh. Dan saya lebih kagum lagi karena ternyata ada satu paku lainnya lagi yang menghunjam kedalam ban itu. Saya tidak habis pikir, bagaimana ban itu bisa bertahan sedemikian kuatnya padahal kedalam tubuhnya ditancapkan tiga buah paku tajam.

Ketahanan semacam ini yang barangkali jarang dimiliki oleh manusia seperti kita. Kita sering terlalu cengeng untuk bisa memendam rasa pedih dan perih ini. Lalu memilih untuk berhenti daripada terus berlari seiring dengan perputaran roda kehidupan ini. Sedangkan ban cubless itu. Dia bertahan dalam nyeri itu sedemikian tenangnya sehingga dalam keadaan terluka oleh tiga buah pakupun tiada mengeluh. Dia tidak mejerit-jerit. Dia tidak beteriak-teriak, apalagi sampai meledak. Dengan tubuh penuh luka itu, dia tabah memikul beban dipundaknya, kemudian terus berlari mengimbangi gerakan roda-roda lainnya.

Mari sekali lagi kita bandingkan, apakah sikap kita lebih mirip ban tradisional yang langsung gembos ketika tertusuk paku kecil sekalipun. Lalu merengek mogok dan meminta berhenti. Atau, mungkin kita sudah memiliki ketangguhan. Katabahan. Dan ketahanan tingkat tinggi seperti yang dimiliki oleh ban cubles itu. Memang. Kita tidak pernah tahu kapan terang itu akan terbit. Seperti halnya kita tidak tahu, kapan tempaan ini akan berakhir dalam penyelesaian yang indah. Namun, jika kita memiliki sikap seperti ban cubles itu; setidak-tidaknya, kita tidak mudah dibuat menyerah. Ban cubles itu baru akan menyerah setelah tak ada lagi udara yang sanggup ditahannya didalam. Seolah dia berprinsip; ”sampai tetes udara penghabisan.” Seperti semboyan yang selalu dikatakan para pejuang sejati:”sampai titik darah penghabisan.” Sehingga, selama hayat masih dikandung badan, mereka tidak akan berhenti berjuang.

Andai saja kita bisa meniru ban cubles itu. Mungkin, kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Dengan sikap tidak mudah menyerah itu, kita mempunyai peluang untuk tiba diakhir gelap, agar bisa menikmati terang. Sebab, sehabis gelap, terbitlah terang. Karena dalam setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Mudah-mudahan.


Read more...

Minggu, 01 November 2009

Bila Anak Hiperaktif, Apa yang Harus Lakukan




Bila Anak Hiperaktif, Apa yang Harus Lakukan
VIVAnews - Menghadapi anak hiperaktif saat sedang emosi memang lebih sulit dibandingkan dengan anak normal. Tetapi bukan berarti anak hiperaktif tidak bisa ditenangkan.

Hiperaktif dalam istilah kedokteran disebut attention-deficit hiperactivity disorder (ADHD). Untuk menghadapi anak yang mengalami kondisi ini, membutuhkan ketelatenan dan kesabaran tinggi. Sikapnya bisa sangat di luar kendali, dan ia juga bisa menyakiti diri sendiri.


Ada beberapa acara yang bisa dilakukan untuk menenangkan anak hiperaktif, di antaranya:

- Persiapkan diri Anda, karena anak hiperaktif memiliki tenaga yang cukup kuat. Lalu, lindungi tubuh dan kepala anak agar tidak terbentur atau terluka. Peluklah dia dengan kuat, karena saat emosi anak hiperaktif seringkali membenturkan atau membanting diri hingga terluka.

- Setelah Anda memeluk, tatap matanya dan usap punggung si anak dengan lembut. Ajak dia menarik nafas perlahan. Hal itu untuk membuat nafasnya bisa lebih lancar, karena saat emosi mereka kesulitan bernafas. Contohkan padanya bagaimana menarik dan membuang nafas secara perlahan. Cara tersebut bisa sedikit menenangkannya.

- Jika anak sudah sedikit tenang dan tidak menangis, berikan minuman hangat. Hindari memberikan minuman yang manis karena bisa membuatnya kembali aktif. Jangan memberikan minum saat anak masih menangis karena bisa tersedak dan membahayakannya.

- Saat si anak sudah agak tenang dan tidak berkeringat, mandikanlah dengan air hangat. Mengajak berendam di air hangat yang penuh dengan busa-busa cukup efektif menurunkan emosinya. Bawa juga mainan favoritnya ke kamar mandi agar ia bisa terhibur.

- Setelah mandi berikan ia pijatan dengan menggunakan minyak yang beraroma menenangkan. Usapkan minyak kayu putih atau minyak telon. Sambil memijat putarkanlah lagu favoritnya. Dengan begitu si anak bisa menjadi lebih tenang dan rileks. (Ehow)


Read more...

Jangan Ah Sayang, Ada Si Kecil Tuh!

"Jangan Ah Sayang, Ada Si Kecil Tuh!"
KOMPAS.com — Mesra di depan anak boleh aja, asal tidak terkesan erotis....

Kemesraan bukan hanya milik pengantin baru. Pasangan yang sudah tahunan menikah pun tetap butuh suasana hangat dan saling menyayangi (baca mesra). Sebab, kemesraan ibarat oase di tengah gurun pasir yang dapat menjaga hubungan Anda dan pasangan tetap segar meski dihadapkan pada setumpuk beban kehidupan sehari-hari.

Soal ungkapan kasih sayang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Masing-masing suami-istri tentu memiliki tradisi sendiri-sendiri. Yang paling umum adalah mencium pipi atau dahi, merangkul, memeluk, bergelayut di pundak, menumpangkan tangan di lengan saat menonton TV, atau sekadar mengusap-usap punggungnya. Memanggil pasangan dengan sebutan khas seperti "Yang" atau "Cinta" juga dapat tetap menyuburkan benih-benih kemesraan. Tak perlu malu-malu atau gengsi dong! Justru dengan sikap seperti itu, pasangan jadi senang serta suasana makin akrab dan hangat.

Tak perlu vulgar

Bagaimana bila ingin mesra-mesraan tetapi ada si kecil? Sebenarnya tak masalah kok. Justru dengan begitu anak belajar bagaimana mengungkapkan rasa sayang pada ayah-ibu serta anggota keluarga lainnya. Lewat suasana mesra, anak pun belajar memahami kehangatan cinta kasih dari kehidupan pernikahan kedua orangtuanya.

Hanya memang, ada rambu-rambu yang perlu dipatuhi. Yang pasti jangan sampai ungkapan sayang tadi mencerminkan adanya gairah yang tengah memuncak. Umpamanya, tak sadar Anda dan pasangan berciuman bibir hingga terkesan erotis atau justru adegan ranjang Anda dan pasangan dipergoki si kecil.

Dampak menyaksikan mesra-mesraan yang berlebihan bagi si kecil tak bisa dibilang ringan. Misalnya, anak bisa menganggap berciuman bibir (yang hot sekalipun) merupakan hal lumrah dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja. Bukan tidak mungkin, rekaman adegan mesra tadi bisa-bisa dilakukan pada teman-temannya tanpa malu dan merasa bersalah. Atau pada kasus yang lebih vulgar, ­ Anda tepergok sedang berhubungan intim dengan pasangan. Ada kemungkinan dalam benak anak terbentuk persepsi. "Jangan-jangan, Ayah telah menyakiti Bunda!"

Persepsi ini diambil karena dalam benaknya, ayahnya telah bersikap "agresif" dan menyakiti bundanya. Efeknya, ia bisa marah pada ayahnya. Atau anak selalu merasa tidak nyaman bila kedua orangtuanya tampak berduaan atau mesra-mesraan meskipun sekadar pelukan.

Beri penjelasan

Apa yang perlu dilakukan saat anak memergoki adegan mesra tadi? Bagi anak yang kemampuan verbalnya sudah berkembang, usia prasekolah atau sekolah, dia bisa saja bertanya tentang adegan yang dilihatnya itu. Tak perlu gelagapan. Usahakan untuk mengetahui apa yang ada dalam benaknya. Misalnya dengan balik bertanya, "Memangnya apa yang kamu lihat?" Atau, "Menurut kamu Ayah-Ibu memangnya sedang apa?"

Boleh jadi, lontaran pertanyaan itu tak dapat dijawab anak. Atau dia sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Nah, barulah beri penjelasan misalnya, "Itu sebagai tanda ayah dan ibu saling menyayangi." Untuk anak usia sekolah, diperlukan penjelasan lanjutan, misalnya, "Hal itu hanya boleh dilakukan orang-orang yang sudah menikah, seperti Ayah dan Ibu. Pernikahan antara Ayah dan Ibu dilakukan karena adanya saling sayang. Nah, apa yang kamu lihat itu, salah satu cara Ayah menunjukkan rasa sayang pada Ibu." Begitu kira-kira. Jadi, selain meluruskan persepsi yang negatif, hal itu sekaligus memberikan pendidikan seks kepada anak.

Pendidikan seks memang semestinya disesuaikan dengan perkembangan usia si kecil. Saat anak sudah mengerti perbedaan jenis kelamin, kenalkan ia tentang alat reproduksi. Jangan gunakan kata-kata kiasan seperti "burung" untuk alat kelamin pria. Akan lebih baik bila kita memberikan sebutan yang benar. Contoh lain, para ibu harus berbagi cerita mengenai pengalaman pribadinya kepada si upik, termasuk saat pertama kali mendapat haid serta bagaimana perasaannya. Singkatnya, apa pun yang ingin diketahui anak tentang seks, harus dijawab agar keingintahuannya terpenuhi dengan benar.

Hal kecil lain yang tak kalah penting berkaitan dengan mesra-mesraan ini, sebaiknya ruang tidur anak dan Anda terpisah. Juga ajari anak untuk terlebih dulu mengetuk pintu setiap akan masuk kamar orangtua. Jangan lupa mengunci pintu kalau sedang ingin berdua-duaan dengan pasangan. Intinya, perlu ada kehati-hatian sebelum melangsungkan percumbuan yang melibatkan gairah seksual. (NAKITA/Hilman Hilmansyah)



Read more...

Sabtu, 31 Oktober 2009

Tips memikat hati seorang suami

Berikut adalah ringkasan singkat bagaimana seorang istri bisa mengambil hati suaminya, juga bagaimana suami bisa bisa memberi kebahagiaan kepada istri. Dengan demikian, keutuhan dan kedamaian dalam rumah tangga senatiasa terjaga dan tampak indah

1.Anda adalah sekuntum mawar yang
sedang bersinar di rumah Anda. Buatlah di
saat suami Anda masuk ke
rumah,
dia merasa bahwa kecantikan dan keharuman mawar
tersebut,
tidak bukan dan tidak lain
hanyalah untuknya seorang.


2.Bagaimana caranya agar suami
Anda itu bisa merasa damai
dan nyaman, baik dengan perbuatan ataupun dengan
kata-kata? Hal itulah yang secara
terus me­nerus Anda selalu usahakan untuk
suami Anda. Untuk kesempurnaannya, lakukan itu dengan sepenuh
jiwa.


3.Sopan dan penuh perhatianlah Anda
ketika ber­bincang-bincang dan berdiskusi, jauhkanlah per­debatan dan
sikap keras kepala dalam mengemukakan pendapat Anda.


4.Pahami kebenaran dan keindahan prinsip-prinsip Islam di
balik kelebihan sang suami terhadap Anda
selaku istri, yang memang terkait dengan
kodrat seorang wanita, dan janganlah hal ini
dianggap sebagai sesuatu yang dzalim.


5.Lembutkanlah suara Anda ketika
berbicara dengan sang suami dan
pastikan suara Anda tidak meninggi pada
saat dia bersama Anda.


6.Pastikan Anda bangun pada
malam hari untuk me­lakukan shalat
malam secara rutin, hal ini akan
mem­bawa kecerahan dan kebahagiaan pada perkawinan Anda, sungguh mengingat Allah
SWT akan membawa ketenangan pada hati
Anda.


7.Bersikaplah diam ketika suami
Anda sedang marah dan jangan
tidur kecuali dia mengijinkannya.


8.Berdirilah dekat suami Anda
ketika dia sedang memakai baju
dan sepatunya.


9.Buatlah suami Anda merasa
bahwa Anda mengingin­kan sang suami untuk
mengenakan baju yang Anda pilih
buat dia, pilihlah pakaian itu oleh
Anda sendiri.

Selengkapnya
baca sendiri di buku: Nasihat Indah untuk Sumai Istri.Semoga keinginan mulia ikhwah semua untuk membina dapat terwujud . . .


Read more...

Jumat, 30 Oktober 2009

Tumbuhkan Tanggung Jawab sejak Dini

Menginjak usia 13-15 tahun, anak sudah mulai ingin dihargai. Untuk itu, mulailah memberikan tanggung jawab kepada anak. Foto: Ist
SIKAP bertanggung jawab tak akan tumbuh dengan sendirinya. Sikap ini perlu dipupuk dan ditumbuhkan. Masa remaja adalah masa yang tepat untuk mulai menanamkan rasa tanggung jawab.



Belakangan ini Silba Arika sering resah. Ibu tiga putra-putri tersebut bingung memikirkan putra sulungnya. Pada usia 27 tahun, putranya tersebut belum juga lulus kuliah. "Saya ingin anak saya cepat lulus kuliah. Padahal dia anak laki-laki terbesar dan seharusnya kan memberi contoh sama kedua adik perempuannya," kata perempuan berusia 50 tahun itu.

Beberapa kali putra tersayangnya itu mencoba membuka usaha. "Tapi tak satu pun yang terlihat hasilnya," tambahnya. Persoalan yang dialami Silba Arika ini mungkin tak akan terjadi bila dia mulai mengajarkan soal tanggung jawab sejak putranya beranjak remaja. Di masa ini, anak harus sudah mulai dikenalkan dengan tanggung jawab.

Rasa tanggung jawab harus mulai ditanamkan saat anak berusia 13-15 tahun. Nah pada masa ini, ibu harus memainkan peran sebagai pendukung. Dikatakan oleh praktisi Emotional Intelligence Parenting dari Radani Emotional Intellegence Parenting Center Hanny Muchtar Darta Certified EI PSYCH-K SET, pada usia 13-15 tahun, anak sudah mulai sadar terhadap keinginan dirinya sendiri (self awareness). Anak mulai memiliki keinginan untuk mencoba segala sesuatu (experimentation) dan mulai mengembangkan perilaku tanggung jawab (responsibility).

"Mereka biasanya senang melampiaskan perasaan dari dirinya," tandas praktisi lulusan pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA tahun 2004 dan 2005 ini. Hanny menambahkan, apabila senang, mereka akan senang bersosialisasi seperti berkumpul, bergaul, dan bermain dengan teman-temannya. Anak pun akan selalu mengikuti tren di lingkungannya. Dan apabila kesal, mereka akan langsung mengeluh.

"Anak di usia ini selalu melihat sisi negatif dari permasalahan yang dihadapinya dan selalu bersifat kritis," ujarnya. Dalam tahapan ini yaitu 13-15 tahun, anak-anak telah mengetahui dan sadar akan hal-hal yang baik dan tidak baik yang terjadi pada dirinya dan lingkungannya. Dia akan selalu menceritakan apa yang dialaminya kepada orangtuanya. "Saat inilah peran orangtua sebagai pendukung sangat dibutuhkan anak," ungkap Hanny.

Masih dikatakan Hanny, orangtua sebaiknya berperan dalam menampung keluhan anak dan menjelaskan apa yang menjadi sebab dan akibat dari masalah yang diceritakan oleh si anak. Lakukan dengan pemahaman yang manusiawi dan dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh anak.

"Selanjutnya, orangtua dapat memberikan solusi dari segala yang dikeluhkan anak dengan cara memberi solusi sederhana yang dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuannya yang masih terbatas," sarannya.

Pada tahap ini, Anda sebagai orangtua sudah harus mulai memberikan tanggung jawab kepada anak Anda. Karena pada usia 13-15 tahun ini, anak sudah mulai ingin dihargai. Mereka juga ingin orang-orang sekelilingnya memahaminya bahwa mereka bukan anak kecil lagi, walaupun belum dewasa. "Untuk itu, mulailah memberikan tanggung jawab kepada anak yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya," papar Hanny.

Apabila hal ini dilakukan orangtua, maka pertumbuhan si buah hati akan menjadi lebih baik. Anak akan tumbuh rasa tanggung jawabnya dan rasa percaya dirinya.

"Pada intinya, peran orangtua sebagai supporter terhadap anak usia 13-15 tahun adalah mendukung kemajuan anak untuk tumbuh menjadi anak yang memiliki rasa sadar terhadap diri dan lingkungannya," ucapnya.

Hanny berpesan, orangtua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri. Orangtua pun harus memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan si buah hatinya. "Bagaimanapun, kemajuan sekecil apa pun dari si anak, dapat dijadikan tolak ukur untuk mengukur kemajuan anak. Inilah modal si anak untuk menggapai segala potensi yang ada pada dirinya," tutup Hanny.

Tahapan mengajarkan anak bertanggungjawab adalah tahapan yang paling penting untuk anak dan orangtua. Pada tahap ini orangtua sebaiknya tidak perlu memberitahukan anaknya berkali- kali, hal ini akan mengakibatkan anak menjadi tidak suka dengan orangtuanya, dan yang sering terjadi adalah anak menuduh orangtuanya cerewet. "Orangtua yang lebih banyak memberikan "ceramah" pada anak, adalah orangtua yang tidak memahami perkembangan anaknya yang mulai tumbuh dewasa," ucap Hanny Muchtar Darta.

Di usia ini anak mulai memiliki pandangan dan pendapatnya sendiri dan terutama sekali mereka ingin dihargai. Namun karena orangtua masih memperlakukan anaknya masih seperti saat usia lima tahun, yang segala sesuatunya harus di beritahu.

Selain itu, orangtua juga masih merasa selalu ingin di dengar oleh anaknya dengan menganggap anaknya masih anak kecil yang belum tahu apa-apa dan tidak perlu di dengar. Apabila hal ini terus dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya, dimana orangtua selalu memainkan peranan yang dominan kepada anaknya sejak dari kecil, maka anaknya akan tumbuh menjadi anak yang memiliki ketergantungan yang tinggi kepada orangtuanya hingga dewasa.

Hanny berpesan, kepada orangtua, sebaiknya memberikan kesempatan kepada si anak untuk berbicara mengemukakan pandangan dan pendapatnya. Dengarkan pendapatnya dengan seksama.

"Orangtua sebaiknya melatih sejak dini kepada anaknya untuk memberikan kesempatan dalam mengambil keputusan sendiri," ungkapnya. Orangtua harus mendukung keputusan anaknya dengan konsekuensi siap kapan saja jika anaknya ingin bertanya kepada orangtuanya. Jika anak menemukan kesulitan, orangtua pun harus siap membantunya. Semisal adalah apabila seorang anak yang merasa bosan belajar piano karena telah mengikuti les piano dari kecil dan sudah sanggup memainkannya dengan baik, maka orangtua tidak boleh memaksanya untuk tetap belajar piano.

"Namun orangtua juga tidak boleh mengalah dengan mengikuti kemauan anaknya untuk tidak mempelajari musik sama sekali. Karena musik sangat bermanfaat bagi anak dalam merangsang pertumbuhan otak," ujarnya. Di sinilah peran orangtua sebagai "pendukung" dituntut mencari solusi terbaik untuk si anak.
(Koran SI/Koran SI/tty)
Read more...

Selasa, 27 Oktober 2009

Tuangkan Rasa Kangenmu lewat Surat Cinta

HARI gini masih surat-suratan? Ughhh...kesannya jadoel banget ya! Sekarang kan zamannya instan. Kalau kangen si pujaan hati, enggak usah repot. Tinggal pencet ponsel, tut...tut...tut... dan tersambunglah dengan suara kekasih hati, "Halo sayang, kenapa? Kangen ya! Aku juga kangen kamu."

Setelah itu, benih-benih cinta pun bersemai kembali. Luar biasa leganya melepas kangen. Namun, hanya hitungan menit saja, suara itu menghilang. Dan kosong lagi.


Tapi, ada rasa berbeda lho bila Moms/Dads mengirim atau menerima pernyataan secara tertulis, entah itu surat pos atau surat elektronik (email atau SMS). Intinya, semua kata-kata itu masih bisa dibaca berulang kali, bahkan hingga puluhan tahun lamanya, asal tidak hilang atau terhapus tentunya.

Nah, ingin hubungan yang selalu mesra bersama pasangan? Ayo simak dulu tip membuat surat cinta yang aduhai ini:

Ungkapkan dari Lubuk Hati

Benar juga kata pepatah "dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu." Meski sudah berstatus istri atau suami, belum tentu lho memahami pasangan seutuhnya. Atau sebaliknya, berharap pasangan yang mengerti isi hati Anda sendiri.

Daripada menduga-duga tidak jelas, malah frustasi sendiri. Lebih baik apa yang terpendam ungkapkan saja kepada pasangan. Percayalah bahwa lubuk hati terdalam akan bicara apa adanya.

Mungkin awalnya sulit menuangkan isi hati, apalagi bila Anda bukan tipe yang romantis. Bisa lho memulainya dengan tulisan, "I Love U, My Beib!?. Hal itu sudah bisa membuat jantung kembang kempis. Bayangkan cinta ?berseluncur? di hati Anda berdua. Niscaya, berlembar-lembar kertas pun atau berfolder-folder file tak cukup untuk menampung isi hati yang dibanjiri cinta.

To The Point

Tapi kalau Moms atau Dads jagonya mengemukakan segala curahan hati. Ya sudah, beberkan saja semuanya. Namun ada syaratnya, yakni jangan berbelit-belit dan membuat bingung.

Langsung saja alias to the point! Bukan berarti tak boleh menulis banyak ya! Jika ada sedikit tulisan yang mendayu-dayu nan panjang bak pujangga pun tak masalah, asalkan mudah dipahami pasangan, sehingga tidak meninggalkan tanda tanya atau penasaran.

Pilihlah Materi Terbaik

Kalau menggunakan kertas surat, pilihlah kertas yang bisa mewakili perasaan. Tulislah dengan tangan.

Jika menuliskan lewat email, carilah font yang jelas. Sebagai variasi, Anda bisa menambahkan ikon romantis.

Perhatikan Isi Surat

Awali dengan sapaan, my beloved, my lovely, atau my sweetheart. Sertakan pula tanggalnya, sehingga dapat diingat kembali kapan surat itu ditulis.

Lalu tuangkan perasaan hati sebebas mungkin. Sebagai penutupnya, berikan sentuhan romantis, always yours, love u, misalnya. Dan bubuhi tanda tangan.

Bangkitkan Romansa

Kiat di atas sudah Anda "kantongi", dan tahukah Anda bahwa apapun bentuk tulisan yang tergores dalam surat, tetap saja menimbulkan getaran hati.

Ya, seperti surat yang pernah saya terima berisi puisi cinta, berikut petikannya:

Kutahu Kita Akan Bertemu

Dalam mimpiku semalam. Ada kamu.
Dalam irama pagiku. Ada kamu.
Dalam hari-hariku. Ada kamu.
Dalam perjalananku. Ada kamu.
Dalam tawa dan tangisku. Ada kamu.
Dalam napasku. Ada kamu.

Walau kita telah terpisah
Dalam jarak dan waktu
Kutahu kita akan bertemu lagi

Karena dalam hidupku. Ada Kamu (Jakarta, 1998)

Dulu saat menerima surat itu, saya hanya mengernyitkan dahi dan bingung dengan perasaan diri sendiri. Saat bertemu kembali dengan si pengirim surat itu, saya tersenyum simpul. Seolah berselancar dalam kenangan manis.

Mungkin Moms atau Dads masih menyimpan surat pos atau email, bisa loh menggairahkan cinta Anda berdua. Sebab di balik surat itu menyimpan kisah tersendiri.

Coba Anda berdua membuka kembali surat-surat lama, pasti ada saja celetuk-celetuk mesra dari pasangan yang membuat pipi bersemu merah. Ingin mesra bersama pasangan? Tulislah perasaan melalui surat cinta. Selamat menulis!(Mom& Kiddie//nsa)



Read more...

Trik Mudah Perlambat Penuaan


VIVAnews - Memperlambat penuaan kulit bisa Anda lakukan sedini mungkin. Bukan hanya dengan menggunakan krim perawatan yang mahal tetapi juga melalui makanan yang Anda konsumsi.

Mengatur pola makan, tidak hanya menyehatkan kulit tetapi juga organ tubuh lainnya. Untuk menjaga, merawat dan memperlambat penuaan kulit,ada empat makanan yang harus dikonsumsi secara teratur.


1. Konsumsi sayur dan buah berwarna setiap 4 atau 5 jam

Semakin bertambahnya usia membuat antioksidan alami semakin berkurang. Untuk itu Anda harus mengonsumsi makanan yang banyak mengandung antioksidan untuk mencegah keriput dan kulit kusam.

Makanan yang harus dikonsumsi adalah sayur dan buah berwarna, seperti jeruk, semangka, brokoli, wortel dan masih banyak lagi. Usahakan untuk mengonsumsi sayur dan buah berwarna setiap empat atau lima jam. Hal itu untuk meningkatkan antioksidan dalam tubuh agar bisa menangkal banyaknya radikal bebas pemicu kerutan pada kulit.

2. Penuhi kebutuhan cairan

Minum air putih delapan gelas sehari adalah keharusan jika Anda ingin memiliki kulit kenyal dan tidak cepat keriput. Jika Anda tidak suka air putih, bisa mengonsumsi teh hijau, susu rendah lemak atau susu kedelai. Jangan sampai Anda menglami dehidrasi hanya karena malas minum, karena tidak hanya berefek pada kulit tetapi juga kesehtan ginjal.

3. Dapatkan 30% kalori dari protein

Setelah usia 30 tahun, massa otot akan menurun 3% hingga 8% tiap sepuluh tahun. Anda tentu tidak ingin otot-oto sekitar wajah telihat kendur karena masaa otot berkurang. Cara mengatasinya adalah dengan mengonsumsi protein hewani.

Tidak hanya mencegah berkurangnya massa otot tetapi juga mencegah menstabilkan kadar gula dalam darah, dan membantu pertumbuhan sel baru. Konsumsilah daging sapi tanpa lemak, ikan, telur, makanan laut, dan kacang-kacangan, untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh.

4. Konsumsi produk gandum

Konsumsilah produk gandum secara teratur. Jika tidak menyukai bubur gandum, Anda bisa mengonsumsi roti gandum saat sarapan. Kombinasikan dengan buah dan sayur dalam roti tersebut. Dengan mengonsumsi gandum, kebutuhan serat Anda akan terpenuhi dan efeknya lainnya adalah bisa memperlambat penuaan kulit karena mengandung banyak vitamin dan mineral.



Read more...

Jumat, 23 Oktober 2009

Langsing Tanpa Olahraga

Langsing Tanpa Olahraga
VIVAnews - Berencana menjalani program membakar kalori akhir pekan ini? Jika tak sempat ke gym, tahukah tahukah Anda, ada banyak aktivitas rutin yang bisa dimanfaatkan sebagai bentuk kegiatan olahraga. Kegiatan itu pun dapat sekaligus membakar kalori 200-300 kalori sehari. Otomatis, berat badan juga bisa menyusut. Apa saja aktivitas itu?

1. Menyapu lantai rumah

Ketika menyapu, usahakan agar sikap badan atau postur tubuh tetap tegak. Jangan menyapu dengan sikap membungkuk, dan pilih sapu yang panjangnya sesuai dengan tinggi badan. Lakukan gerakan menyapu dengan dua tangan.

Caranya, 5 kali menyapu dengan tangan kanan, lalu 5 kali dengan tangan kiri. Bila terus dilakukan bergantian, maka beban pada otot kiri dan kanan lengan menjadi sama, dan otot lengan bagian atas akan terlatih. Menyapu tidak memerlukan energi besar karena intensitasnya tidak terlalu tinggi.

2. Mengelap kaca

Lebih bagus jika Anda memiliki peralatan untuk membersihkan kaca-kaca gedung. Namun, kain lap pun tidak masalah. Gerakan yang dilakukan bisa bervariasi. Pertama, gosokkan alat yang sudah diberi cairan pembersih dengan gerakan memutar. Lakukan dengan tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian.

Selain meratakan cairan pembersih, gerakan tersebut akan mengencangkan otot lengan. Kedua, kaca dibersihkan dengan alat yang sudah diberi air.

Gerakkan alat ke atas dan ke bawah serta ke kiri dan kanan. Masing-masing arah 5 kali. Tangan selalu bergantian agar selalu ada keseimbangan gerak antara tangan kanan dan tangan kiri. Jika kaca di rumah banyak dan besar, tentunya intensitas gerakan tangan pun akan bertambah.

3. Membersihkan perabot di bagian atas

Perabot di bagian atas tentunya sulit dijangkau tanpa menggunakan alat bantu. Untuk bagian yang lebih rendah, Anda dapat berjinjit untuk mengencangkan otot-otot betis. Saat berjinjit, otot betis akan mendapatkan beban latihan yang cukup besar. Semakin tinggi berjinjit, otot betis semakin tertarik.

Alternatif lain, jika tempatnya sangat tinggi, gunakan bantuan kursi. Gerakan naik dan turun kursi inilah yang menjadi olahraga cukup berat seperti naik tangga atau memanjat. Gerakan tangan kurang lebih sama dengan kegiatan mengelap kaca.

4. Membersihkan kamar mandi

Kegiatan menyikat dinding kamar mandi memerlukan cukup banyak energi. Tangan bisa digerakkan ke atas dan ke bawah atau ke kiri dan ke kanan. Selain tangan, otot kaki, otot pinggang, dan otot punggung juga mendapatkan beban latihan. Anda tidak bisa berada dalam posisi tegak terus-menerus, sesekali harus berjinjit, membungkuk, dan bahkan berjongkok. Ambil posisi badan yang berbeda secara bergantian agar semua otot mendapat beban yang sama.

Selain menyikat dinding, Anda juga bisa menyikat bak airnya. Dalam aktivitas ini, badan lebih banyak membungkuk dan gerakan tangan menyikat pun harus tetap bergantian. Otot pinggang, otot punggung, dan otot paha juga mendapat beban yang cukup berat. Karena, saat Anda membungkuk, semua otot itu tertarik ke atas.

5. Menyetrika

Gerakan tangan menyetrika yang cukup intensif juga akan bermanfaat untuk mengencangkan lengan. Keseimbangan antara tangan kiri dan kanan harus selalu diperhatikan. Selain itu, jika Anda menyetrika dengan posisi berdiri, beban latihan untuk otot kaki cukup berat. Untuk mencegah terjadinya sakit punggung, sebaiknya salah satu kaki Anda bertumpu pada bangku kecil, bergantian antara kaki kanan dan kiri.



Read more...

Kamis, 22 Oktober 2009

Menghindari Hipnotis

Menghindari Hipnotis

Modus kejahatan saat ini semakin beragam saja. Salah satu yang paling berbahaya, hipnotis, yang memungkinkan pelaku kejahatan mengambil seluruh harta korban dengan cara membuat korban tidak menyadari tindakannya.

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindarkan diri dari ancaman hipnotis yang berbahaya, di antaranya:


1. Percaya dan yakin sepenuhnya bahwa kejahatan hipnotis tidak akan mempan kepada orang yang menolaknya, karena seluruh proses hipnotis adalah proses “self hypnosis” (kita mensugesti diri sendiri). Rasa takut kita dimanfaatkan oleh pelaku hipnotis.

2. Curigalah pada orang yang baru anda kenal dan berusaha mendekati Anda, karena seluruh proses hipnotis merupakan teknik komunikasi yang sangat persuasif.

3. Waspadalah terhadap orang yang menepuk Anda dan hindari dari percakapan yang mungkin terjadi. Ketika Anda fokus pada ucapannya, pada saat itulah sugesti sedang dilontarkan. Segeralah pindah dari tempat itu dan alihkan perhatian Anda ke tempat lain.

4. Sibukkan pikiran Anda dan jangan biarkan pikiran kosong pada saat Anda sedang sendirian di tempat umum. Pada saat pikiran kosong, alam bawah sadar Anda terbuka sangat lebar, sehingga membawa peluang sugesti dari hipnotis masuk.

5. Waspadalah terhadap rasa mengantuk, mual, pusing, atau dada terasa sesak yang datang tiba-tiba secara tidak wajar, karena kemungkinan saat itu ada seseorang yang berusaha melakukan telepathic forcing kepada Anda. Segera niatkan untuk membuang seluruh energi negatif tersebut ke bumi, cukup dengan cara visualisasi dan berdoa menurut agama dan keyakinan Anda.

6. Hilangkan kebiasaan "latah", karena latah dapat membuka alam bawah sadar untuk mengikuti perintah.

7. Hati-hati terhadap beberapa orang yang tiba-tiba mengerumuni Anda tanpa suatu hal yang jelas dan pergilah ke tempat yang ramai atau laporkan kepada petugas keamanan. Kadang para pelaku kejahatan hipnotis melakukan aksinya secara berkelompok, seolah-olah saling tidak mengenal.

8. Jika Anda mulai merasa memasuki suatu kesadaran yang berbeda, segeralah perintahkan diri Anda agar sadar dan normal kembali, dengan meniatkan, “Saya sadar dan normal sepenuhnya!"

(rlx/dila)

Read more...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kenalkan Anak Sesuatu yang Baru


Kenalkan Anak Sesuatu yang Baru
ANAK terlahir dengan 100 miliar sel otak yang belum terhubung dengan sempurna. Sel-sel otak tersebut membutuhkan rangsangan agar bisa terjalin hubungan yang baik, sehingga anak tumbuh dan berkembang sesuai tahapan usianya.

Karena itu, ajarkan mereka sesuatu yang baru sejak dini. Praktisi Emotional Intellegence Parenting, Hanny Muchtar Darta, Certified EI, PSYCH-K,SET dari Radani Emotional Intellegence Center mengatakan bahwa saat Anda mulai melakukan kegiatan-kegiatan sederhana sejak buah hati lahir, sel otaknya sudah terstimulus dan menyerap rangsangan yang diberikan.


Kemudian, sel-sel otak membentuk sinaps, yaitu penghubung antara dua ujung dari sel-sel otak yang berbeda. "Berlanjut hingga anak memasuki usia 5 tahun, maka bisa Anda bayangkan bahwa sel-sel otak tersebut sudah banyak memiliki jaringan koneksi dan anak pun berkembang memasuki fase pembelajaran yang kritis," urai Hanny.

Mengajarkan anak untuk bisa mengolah otaknya tidak hanya terpaku dari segi makanan. Banyak hal yang bisa dilihat. Otak buah hati Anda sudah bisa memilah, mana yang baik dan tidak.
"Ekspos anak dengan beragam kegiatan, aktivitas atau pengalaman yang menarik sehingga anak memiliki sesuatu yang membuatnya belajar akan satu hal," sarannya.

Hanny menambahkan, orangtua harus memikirkan macam-macam aktivitas untuk si kecil. Misalnya, pilih kegiatan yang tidak membuatnya bosan setiap minggunya. Apakah itu berkebun di taman belakang, jogging, bermain bola, atau pergi ke mana hari minggu ini? Ke bioskop, ke rumah opa-oma, ataukah ke museum?

Kuncinya, aktivitas itu harus beragam dan berbeda setiap minggunya. Dengan kegiatan-kegiatan yang berbeda dan menyenangkan ini, anak akan belajar dan punya pengalaman baru, bahkan jaringan- jaringan syaraf otaknya akan membuat hubungan yang bagus pula.

Semakin anak-anak diberikan latihan dan pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah mereka dapatkan, anak akan semakin mahir. Jaringan syaraf otaknya pun akan semakin kuat.

Selain itu, ajarkan anak untuk bersosialisasi termasuk menimbulkan rasa empati kepada teman-temannya. Hanny menyarankan agar memulainya dari hal-hal sederhana, misalnya menjenguk teman atau saudara yang sakit.

"Dari kegiatan ini, tanamkan bahwa sebagai manusia harus saling tolong-menolong dan harus memperhatikan satu sama lain," paparnya.

Seiring berjalannya waktu dan usia si anak, akan tumbuh rasa empati tinggi terhadap sesamanya. Sehingga saat dewasa, anak menjadi individu yang menyenangkan dan berjiwa sosial besar. Hanny berpesan agar menjadi orangtua yang bisa memberikan arahan positif untuk anak sehingga keinginan anak bisa diungkapkan dengan baik.

Saat keputusan anak didukung orangtua yang bijaksana dan lingkungan keluarga yang menyenangkan, maka rasa percaya dirinya akan muncul.

"Anda harus mendukung pilihan dan keputusan anak, bukan mematikan keputusan itu dan harus mengikuti keinginan Anda sendiri," tegas Hanny.(Koran SI/Koran SI/uky)



Read more...

Sponsor

Forum Grantung

Bisnis Lancar

  ©Template Blogger Writer II by Dicas Blogger.

SUBIR